Kamu sedang menjelajahi pustaka Verified tentang kesehatan, misinformasi, dan solidaritas global. Lihat karya Verified tentang iklim →

Tingkat kelaparan dunia melonjak selama pandemi

“Kami nggak bisa bekerja lagi dan nggak bisa membawa pulang makanan.”

MARLENE ROSALES, IBU, HONDURAS

Bagikan video kami yang menampilkan sebagian dari miliaran orang yang mengalami kerawanan pangan pada 2020

Solidaritas Global

Selama pandemi, kelaparan dunia meningkat tajam.

Banyak dari kita nggak perlu khawatir soal makanan. Tapi, bahkan sebelum pandemi, ratusan juta orang kelaparan setiap hari. Ketahanan pangan seharusnya menjadi hak asasi setiap orang. Namun, kemiskinan, konflik, dan perubahan iklim membuat banyak orang tua kesulitan menyediakan satu kali makan sehari untuk anak-anak mereka.

Dampak COVID-19 membuat akses terhadap makanan semakin sulit dan kelaparan dunia meningkat drastis.

Pada 2020, lebih dari 800 juta orang mengalami kekurangan gizi—naik 8% dibandingkan 2019, sebelum pandemi dimulai.

Sebanyak 2,3 miliar orang (30% populasi dunia) mengalami kerawanan pangan. Angka ini sungguh mengejutkan.

Pandemi memicu resesi ekonomi yang belum pernah terjadi lagi sejak Perang Dunia Kedua. Langkah-langkah untuk membatasi penyebaran virus menyebabkan pengangguran massal dan membatasi kemampuan orang untuk bekerja. Akibatnya, banyak keluarga mengalami penurunan drastis dalam jumlah uang yang tersedia untuk membeli atau menanam bahan pangan.

Keadaan makin sulit karena harga makanan naik di banyak negara.

Perserikatan Bangsa-Bangsa berupaya mengakhiri kelaparan pada 2030. Tapi, agar upaya ini kembali ke jalurnya, pandemi harus berakhir.

Dengan bekerja bersama, komunitas internasional, perusahaan besar, dan kita semua punya kekuatan dan sumber daya untuk membantu mengakhiri pandemi dan meringankan beban kelaparan dunia.

Dengan menyebarkan kesadaran tentang dampak pandemi yang meluas dan cara kita bisa bekerja sama untuk mengakhirinya, kamu juga ikut membantu.

Bagikan video (terbuka di tab baru) kami hari ini.